Kamis, 26 September 2013


Judul Buku : The Early Years of A Dutch Colonial Mission, the Karo Land.

Penulis bernama Rita Smith Kipp
Provost and Dean of the College di Marietta College
Studi : Ph.D. dalam bidang Anthropology (University of Pittsburgh), Bachelor of Arts (University of Oklahoma)
Buku-Buku yang ditulisnya :
• Dissociated Identities: Ethnicity, Religion, and Class in an Indonesian Society. Ann Arbor : University of Michigan Press. 1993.
• The Early Years of a Dutch Colonial Mission : The Karo Field. Ann Arbor: University of Michigan Press, 1990.
• Indonesian Religions in Transition. Rita Smith Kipp and Susan Rodgers, eds. Tucson: University of Arizona Press, 1987.
• Beyond Samosir: Recent Studies of the Batak Peoples of Sumatra. Rita Smith Kipp and Richard D. Kipp, eds. Athens : Ohio University Center for International Studies Southeast Asia Program, 1983.

Artikel yang dia tulis :
• Freud Reads A Village Childhood. PsyArt, July 18, 2012.
• Two Views of the Minahasa, or, Whatever Happened to the Poor Heathen Bush Natives. Journal of Asian Studies,63:597-624, 2005.
• Indonesia in 2003. Asian Survey 44:62-69, 2004.
• The Nationalist Credentials of Christian Indonesians and the Legacy of Colonial Racism. Itenerario 27, 3/4:81- 111, 2003.

Latar Belakang dan Tujuan Penulisan
Buku ini menceritakan tentang 15 tahun pertama Ladang Misi NZG di Tanah Karo. Tahun 1889, NZG diajak untuk bermisi di Tanah Karo. Diceritakan dalam buku ini tentang bagaimana hubungan antara pengusaha, pemerintah Belanda, masyarakat Karo dengan para misionaris NZG. Rita Smith Kipp menulis buku ini memakai metode sejarah, walaupun sebenarnya jurusan yang digelutinya adalah anthropologi. Dia menceritakan bagaimana Thomas O Beidelman meneliti. Thomas O Beidelman memakai perspektif antropologi sosial dan sejarah kolonial pada saat Beidelman meneliti misi gereja Anglikan di Afrika Timur. Selain Beidelman, Kipp juga mengangkat pendapat Whiteman yang membuat etnografi misi Anglikan Melanesia dan Huber yang membuat sejarah etnografi misi Katolik di Papua Nugini.

Pekerjaan antropolog kata Kipp, berpusat pada penelitian satu denominasi dalam suatu wilayah tertentu. Sementara itu, penelitian sejarah dimulai dari masa lalu dan sampai masa kini. Sejarah katanya sering membatasi diri dalam meneliti misi dalam batasan seputar kategori dan topik tertentu. Kipp mengambil contoh Clymer seorang sejarawan yang melihat sebuah kelompok misi Protestan di Philipina sebelum Perang Dunia I untuk melihat mentalitas kolonial Amerika. Sementara itu Cheung, seorang sosiolog melihat bagaimana misi di bidang kesehatan dalam dua gerakan misi Protestan Kanada dalam wilayah China sebelum revolusi China. Kipp juga mengambil contoh seperti Hunter, seorang sejarawan, yang mempelajari pengalaman misionaris wanita di China. Dia mengumpulkan analisanya dari beberapa denominasi Protestan. Maka didapatlah strategi misi melalui pengalaman hidup misionaris tersebut. Dengan demikian antropologi meneliti satu wilayah, namun terkadang mereka juga memakai metode penelitian sejarah.

Tidak berbeda dengan Beidelman dan Huber, Kipp juga meneliti berdasarkan kepada sumber-sumber sejarah, meneliti setiap kelas dan suku masyarakat, khususnya dalam buku ini yang ditelitinya adalah masyarakat Karo. Rita Smith Kipp mengatakan bahwa pada awalnya, Kekristenan Karo dilihatnya sebagai benteng untuk tidak dicap sebagai seorang Komunis (PKI). Selain itu, dia juga melihat bagaimana keKristenan tersebut tidak bisa hidup bersama dengan sebahagian adat istiadat/ budaya mereka. Pada saat itu ada sekitar 30 % masyarakat Karo menganut paham animisme. Oleh sebab itu Kipp merasa tertarik untuk melihat kembali bagaimana sebenarnya para misionaris memberitakan Injil di tengah-tengah orang Karo.

Kipp meneliti untuk menulis bukunya ini antara tahun 1972 dan 1974. Kemudian untuk melanjutkan penelitiannya, Kipp memeriksa arsip-arsip di Belanda di Oegstgeest, Hendrik Kraemer Instituut, museum di Den Haag dan di Amsterdam, majalah bulanan (Mededeelingen) termasuk surat-surat tulisan tangan pribadi para misionaris NZG dan mewawancarai keluarga misionaris NZG yang dulunya pernah menjadi misionaris di Tanah Karo. Kipp juga mendapatkan tulisan-tulisan JH Neumann tentang bahasa dan budaya yang ditulis Neumann selama tugasnya di Tanah Karo. Kemudian tahun 1983 kembali ke Indonesia untuk mewawancarai pimpinan GBKP. Kipp memperoleh data bahwa selain pengaruh kepentingan ekonomi penjajah untuk mengusai Tanah Karo, dia juga melihat bahwa budaya Barat menjadi penghambat penyebaran agama tersebut. Agama Kristen dianggap sebagai agama penjajah. Bagaimana hubungan antara penjajah dengan yang dijajah? Penginjilan datang dari Belanda, kemudian kolonial mempengaruhi penginjilan dengan politiknya dan untuk meraih keuntungan di bidang ekonomi. Para misionaris harus patuh kepada orang-orang yang mengutus dan membiayainya.

Kipp menggambarkan ada dua situasi umum misionaris pada saat bekerja di daerah kolonial yaitu : yang pertama, misionaris berada di antara kekuatan kolonial, tidak mampu berhadapan dengan pemerintah saat itu dan tidak berdaya tanpa kekayaan kaum kapitalis. Misionaris memerlukan sumber dana dan daya dari luar dirinya. Kaum kapitalis memerlukan tenaga misionaris untuk mendapatkan keuntungan dan misionaris memerlukan dan untuk misi. Yang kedua, misionaris mengkompromikan nilai-nilai keKristenan untuk mencapai tujuan mereka. Yang terpenting bagi mereka (misionaris) Kerajaan Allah dapat diberitakan. Dalam proses misi tersebut mereka juga (terperangkap) untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan cita-cita keKristenan. Para misionaris berangkat dengan penuh pengorbanan, berpisah dengan teman-teman mereka bahkan dengan keluarga (anak-anak) mereka yang terkadang harus sekolah di negeri Belanda. Tetapi panggilan dari Injil Matius 28 untuk memberitakan berita keselamatan dan dorongan karena kasih Allah dalam hidup mereka, mereka mau berangkat ke daerah penginjilan.

Selain memberitakan Injil, mereka juga mempelajari bahasa, mempelajari dan mencoba mengikuti adat dan tradisi di daerah mereka menginjil. Sesuai dengan ajaran Calvin tentang Predestinasi, para misionaris juga merasa penting untuk memberitakan Injil walaupun Calvin sendiri bukan mengatakan penginjilan sebagai pekerjaan utama gereja, karena katanya Allah lah yang memilih orang untuk diselamatkan. Kipp mencatat bahwa Johanes Calvin pernah menyediakan 120 orang Pendeta untuk melayani di daerah Perancis. Hal ini menunjukkan bahwa Calvin juga sangat memperhatikan tugas penginjilan sebatas daerah Eropah. Masuknya VOC ke Indonesia membawa pendeta pendeta untuk melayani pelaut dan juga melayani orang Eropah yang berada di Indonesia. Selanjutnya diperlukan tata aturan, misalnya bagaimana membaptis anak dari seorang ayah Belanda dan ibunya yang masih kafir. Akhirnya didirikanlah Gereja Reformed pertama di Maluku pada tahun 1615. Sehingga dibutuhkan pelayanan dengan memakai bahasa Melayu.

Kemudian pada tahun 1629 diterbitkan Injil berbahasa Melayu. Nederlandsche Zendelinggenootschap (NZG) yang masuk ke Tanah Karo, didirikan di Rotterdam pada tahun 1797, mengikuti London Missionary Society (LMS). NZG berpegang pada Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru serta 12 pasal pengakuan iman Rasuli. Mereka memakai meterai “Demi/ Oleh Darah Salib”. Kipp mengatakan NZG tidak mewakili gereja manapun di Belanda. Kemudian muncul lagi NZV (Nederlansche Zendingsvereeniging) pada tahun 1858) dan banyak wanita terlibat di dalamnya. NZG lah yang masuk ke Tanah Karo untuk memberitakan Injil. Kipp mengatakan bahwa kekuasaan kolonial di Indonesia sampai akhir abad ke 19 tidak begitu luas, hanya Jawa dan Maluku yang dikuasai kolonial. Oleh sebab kolonial merasa penting untuk menguasai daerah lainnya. Untuk itu dikeluarkanlah undang-undang agraria pada tahun 1870 dimana pengusaha swasta boleh menyewa tanah dalam jangka panjang. Sehingga akan memberikan keuntungan ekonomi bagi Belanda. Sebaliknya Belanda juga mempunyai kewajiban moral untuk membangun pendidikan, kebudayaan, kesehatan dan infrastruktur lainnya di daerah jajahannya. Pada tahun 1901, Ratu Wilhelmina berpidato dan mengatakan bahwa penting membawa keKristenan ke Hindia. Menteri baru Koloni, Idenburg juga sangat mendukung misi tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar