Jumat, 05 September 2014

Foolishness to the Greeks By Lesslie Newbigin



Yang menjadi tujuan Lesslie dalam buku ini adalah untuk mengkaji apa-apa saja yang akan terlibat dalam pertemuan misionari sejati dalam membahas antara injil dan kebudayaan yang ada dalam pemikiran masyarakat Eropa maupun masyarakat Amerika Utara, cabang-cabang kolonial dan kebudayaan mereka, dan kumpulan para pemimpin berpendidikan yang semakin meningkat di kota-kota dunia – kebudayaan yang sama-sama kita miliki biasanya dideskripsikan sebagai “modern”. Fenomena ini biasanya disebut “modernisasi”, yang dipromosikan di banyak Dunia Ketiga melalui universitas dan network pelatihan teknis, perusahaan-perusahaan multinasional dan media, ternyata merupakan opsi-bersamaan kepemimpinan dari negara-negara dalam kebudayaan tertentu yang berasal-muasal pada masyarakat Eropa barat. Untuk sementara, dan seraya menunggu kajian yang lebih cermat akan hal ini, saya cukup menyebutnya “kebudayaan Barat modern”.
            Lesslie mendekati studi melalui sudut pandang misionaris asing. Setelah menghabiskan sebagian besar hidupbya sebagai misionaris di India, dia terpanggil untuk mengajar missiologi dan kemudian menjadi misionaris di daerah pusat kota tipikal di Inggris. Peran ini memaksanya untuk mengajukan pertanyaan yang dia ajukan sebagai tema buku ini: Apa yang akan terlibat dalam pertemuan misionari antara injil dan cara seutuhnya mempersepsikan, memikirkan dan mengamalkan apa yang kita sebut sebagai “kebudayaan Barat modern”? Tentu saja tidak ada yang baru dalam membahas hubungan antara injil dan kebudayaan. Kita mempunyai studi klasik Richard Niebuhr tentang lima model hubungan dalam bukunya Christ and Culture. Kita mempunyai studi raksasa Paul Tillich, yang sangat begitu fokus pada apa yang ia sebut, dalam judul kuliah publik pertamanya, “theologia kebudayaan”. Tetapi studi ini pada pokoknya dilaksanakan, sepanjang yang dia ketahui, oleh para theolog yang tidak berpengalaman sebagai ujung tombak kebudayaan, pengalaman yang berusaha menyalurkan injil dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang sangat berbeda.
            Di lain pihak, kita mempunyai banyak sekali studi oleh misionaris
tentang isu-isu theologia yang diangkat oleh misi lintas-budaya. Karena para misionaris Barat sama-sama mengalami kebangkitan umum keyakinan pada kebudayaan Barat modern, mereka jadinya lebih menyadari fakta bahwa dalam presentasi injil mereka sering keliru menyamakan persepsi-persepsi yang terkondisi secara kultural dengan substansi injil, dan dengan demikian salah mengklaim otoritas ilahi untuk relativitas satu kebudayaan.
            Bagi sebagian kalangan di sayap liberal dari Protestan, seperti W.E. Hocking, misi Kristen hampir terserap ke dalam penyebaran kebudayaan Barat di seluruh dunia, dan ini cukup eksplisit. Tetapi mereka yang ada di ujung spektrum yang berseberangan, evangelical konservatif, sering tidak menyadari pengkondisian budaya atas agama mereka dan karenanya bersalah, seperti yang sekarang diakui oleh banyak dari antara mereka, mengacaukan injil dengan nilai-nilai cara hidup Amerika tanpa menyadari apa yang sedang mereka lakukan. Dalam beberapa dekade terakhir tulisan misionaris tentang masalah kontekstualisasi tumbuh menjamur. Ini disebut dengan istilah indigenization dan adaptasi, yang jauh sebelumnya digunakan masing-masing oleh kalangan Protestan dan Katholik. Kelemahan dari yang disebut pertama adalah bahwa itu cenderung mengkaitkan pesan Kristen dengan bentuk-bentuk kebudayaan tradisional – bentuk-bentuk yang merupakan milik masa lalu dan dari mana orang-orang muda berpaling di bawah pengaruh “modernisasi” yang sangat meresap dalam kehidupannya. Efeknya adalah mengidentifikasikan injil dengan elemen-elemen konservatif di dalam masyarakat. Kelemahan dari bentuk yang disebut terakhir, adaptasi, adalah bahwa dinyatakan secara tidak langsung bahwa apa yang diusung misionaris adalah injil murni, yang harus diadaptasikan dengan kebudayaan penerima. Ini cenderung mengaburkan fakta bahwa injil sebagaimana terwujud dalam pengajaran dan praktek misionaris sudah merupakan injil yang diadaptasikan, yang dibentuk oleh kebudayaannya sendiri. Arti penting dari kata kontekstualisasi adalah bahwa ini mengisyaratkan penempatan injil dalam konteks total suatu kebudayaan pada momen tertentu, momen yang dibentuk oleh masa lalu dan menatap di masa depan.
            Akan tetapi, kelemahan dari keseluruhan tulisan missiologis ini adalah bahwa walaupun tulisan ini berusaha mengeksplorasi masalah-masalah kontekstualisasi dalam semua kebudayaan manusia dari China hingga Peru, tulisan ini sebagian besar mengabaikan kebudayaan yang paling tersebar luas, kuat dan persuatif dari antara semua kebudayaan kontemporer – yaitu, apa yang kita sebut kebudayaan Barat modern. Selain itu, kelalaian ini bahkan lebih serius karena kebudayaan inilah yang, lebih dari hampir semua kebudayaan lainnya, terbukti menentang injil. Di wilayah-wilayah besar Asia, Afrika dan Oceania, gereja terus bertumbuh dan bahkan bertumbuh secara spektakuler. Tetapi di bidang yang didominasi oleh kebudayaan Barat modern (apakah itu dalam ekspresi politik kapitalis atau sosialis) gereja menyusut dan injil tampaknya jatuh di telinga-telinga yang tuli. Karena itu, tampak bahwa tidak ada prioritas yang lebih tinggi untuk studi penelitian missiolog daripada mengajukan pertanyaan tentang apa yang akan terlibat dalam pertemuan misionaris sejati antara injil dan kebudayaan Barat modern ini. Atau, dengan meletakkan permasalahannya dengan cara yang sedikit berbeda, bisakah pengalaman misionaris dalam penyebaran injil lintas-budaya dan kajian para theolog yang meneliti tentang pertanyaan soal injil dan kebudayaan dalam batas-batas kebudayaan Barat modern kita ada gunanya dipadukan untuk menegaskan isu pokok yang diajukannya?
            Dengan kata kebudayaan haruslah kita pahami sebagai total keseluruhan cara-cara hidup yang dikembangkan oleh sekelompok manusia dan diturunkan dari generasi ke generasi. Yang sangat penting untuk kebudayaan ini adalah bahasa. Bahasa masyarakat memberikan cara dengan mana mereka mengungkapkan cara mereka mempersepsikan segala sesuatu dan mengatasinya. Di seputar titik pusat tersebut orang harus mengumpulkan seni visual dan musikal mereka, teknologi mereka, hukum mereka dan organisasi sosial dan politik mereka. Dan orang juga harus memasukkan dalam kebudayaan, dan sebagai hal yang mendasar untuk setiap kebudayaan, serangkaian keyakinan, pengalaman dan praktek yang berusaha memahami dan mengekspresikan sifat utama dari segala sesuatu, yang akan memberikan bentuk dan arti bagi kehidupan, yang akan mengklaim loyalitas final. Lesslie, jelas, berbicara tentang agama. Dengan demikian, agama – termasuk agama Kristen – merupakan bagian dari kebudayaan.
            Dalam berbicara tentang “injil”, Lesslie mengacu kepada pengumuman bahwa dalam serangkaian kejadian yang berpusat pada kehidupan, pelayanan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus terjadi sesuatu yang mengubah situasi total manusia dan karenanya harus mempertanyakan setiap kebudayaan manusia. Sekarang jelas pengumuman ini sendiri telah terkondisi secara kultural. Ini tidak turun dari sorga atau melalui mulut malaikat. Kata Yesus Kristus (Jesus Christ) adalah terjemahan bahasa Yunani dari nama dan gelar Ibrani, Joshua the Messiah. Kata ini termasuk dalam dan merupakan bagian dari kebudayaan salah satu bagian dunia – Mediterania timur – di suatu titik sejarah saat bahasa Yunani merupakan bahasa internasional yang paling tersebar luas di pulau-pulau sekitar Laut Mediterania. Baik pada permulaan, maupun dalam waktu selanjutnya, tidak ada dan tidak bisa ada injil yang tidak terwujudkan dalam bentuk kata-kata yang terkondisikan secara kultural. Ide bahwa orang bisa atau dapat suatu waktu memisahkan melalui proses distilasi injil murni yang tidak dicampuri oleh imbuhan-imbuhan budaya adalah suatu illusi. Ternyata, itu merupakan pembuangan injil, karena injil adalah soal Firman yang menjadi daging. Setiap pernyataan injil dalam kata-kata dikondisikan oleh kebudayaan di mana kata-kata tersebut merupakan bagiannya, dan setiap gaya hidup yang mengklaim mengejawantahkan kebenaran injil adalah gaya hidup yang terkondisikan secara kultural. Takkan pernah bisa ada injil yang bebas-budaya. Namun injil, yang sejak awal hingga akhir terwujud dalam bentuk-bentuk yang terkondisi secara kultural, yang mempertanyakan seluruh kebudayaan, termasuk kebudayaan di dalam mana injil tersebut awalnya terwujudkan.
            Apa yang dia harapkan untuk disampaikan dalam buku ini adalah sebagai berikut: pertama, untuk membahas pada umumnya isu-isu yang diangkat oleh komunikasi injil lintas-budaya; kedua, untuk mengkaji ciri-ciri penting dari kebudayaan Barat modern, Ketiga, untuk menghadapi pertanyaan penting tentang bagaimana otoritas alkitabiah bisa menjadi realitas bagi mereka yang dibentuk oleh kebudayaan Barat modern; keempat, untuk menanyakan apa yang akan terlibat dalam pertemuan injil dengan kebudayaan Barat dengan mengacu kepada inti intelektual dari kebudayaan Barat, yaitu sains; kelima, untuk mengajukan pertanyaan yang sama berkenaan dengan politik Barat; dan terakhir, untuk menyelidiki tentang tugas gereja dalam mewujudkan pertemuan ini.

Jumat, 16 Mei 2014

Pangumbaran ing Bang Wetan oleh Yusak Soleiman


Pangumbaran ing Bang Wetan
Gereja Reformasi Belanda di akhir abad kedelapan belas di Pulau Jawa :
 

Pada tahun 2005 di Ambon, ada sebuah perayaan untuk memperingati 400 tahun kedatangan Protestan di kepulauan Indonesia. Pada saat itu Yusak  Soleiman masih berada di Belanda sedang berjuang untuk memahami hal yang sama. A.A. Yewangoe, ketua Persekutuan Gereja Indonesia menyuruh Yusak mencari arti sebenarnya dari peringatan tersebut. Dia mengatakan cerita yang berbeda tentang apa yang terjadi 400 tahun yang lalu dan apa yang datang sesudahnya. Belanda datang bukan untuk membawa Injil, katanya, mereka datang sebagai pedagang. Untuk mengamankan kepentingan mereka, mereka menggunakan senjata dan langkah-langkah lainnya.Yusak memahami perasaannya dan mengambil langkah pendekatan sejarah.
Sebuah masa yang disalahpahami dan terlupakan. Kebanyakan penelitian sejarah gereja Indonesia dari sisi Protestan hanya meneliti tahun-tahun antara 1602 hingga 1799. Periode ini dianggap tidak signifikan. Era mulia usaha misionaris di abad kesembilan belas dan abad kedua puluh  dan pada saat yang sama merupakan titik awal kolonialisme Barat di Kepulauan Indonesia.

Hampir seluruh studi sejarah misi lndonesia abad kedua puluh didominasi oleh pandangan Grothe, Coolsma, Van Boetzelaer dan teolog lainnya dari abad kesembilan belas dan abad kedua puluh. Buku mereka dikutip
berulang-ulang kali oleh para sejarawan dan teolog. Sejak tahun 1970-an sejarawan gereja Indonesia telah menulis penelitian sejarah mereka sendiri. Menggunakan arsip dari dewan Misi Reformed Belanda di Oegstgeest, Belanda dan perpustakaan misionaris Belanda dan Eropa lainnya, mereka telah menghasilkan tulisan-tulisan sejarah yang luas yang meliputi hampir setiap daerah di Indonesia. Selain sejarawan gereja, ada banyak teolog yang menulis tentang berbagai aspek sejarah kekristenan di Indonesia.
Untuk waktu yang lama historiografi Kekristenan di Indonesia difokuskan pada pengembangan dan pelembagaan gereja tertentu di Indonesia, sementara yang lain menulis tentang masalah warisan budaya Barat di dalam kekristenan lokal. Untuk sebagian besar, tulisan-tulisan tentang sejarah kekristenan memang cukup memuaskan dalam hal  sejarah misi dan sejarah pelembagaan gereja-gereja. Ini
berarti sebagian besar sejarawan dan teolog Indonesia memfokuskan studi mereka pada hal yang lebih baru di abad kesembilan belas dan kedua puluh.
Bukan hanya bahasa menjadi penghalang untuk meneliti sejarah dari masa 200 tahun pertama Protestan di Indonesia, hanya ada sedikit publikasi sumber-sumber sejarah gereja pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Bahkan di akhir tahun 1980-an dan pada awal 1990-an setelah para sarjana menemukan banyak bahan di perpustakaan Hendrik Kraemer Institute di Oegstgeest, banyak yang tidak menyadari periode pra-1800.
Pada kuartal terakhir abad kedua puluh pendekatan historiografi baru
membawa angin segar untuk melihat Kekristenan awal di Indonesia. Bahan-bahan favorit teolog dan sejarawan gereja seperti Mooij dan Van Boetzelaer, arsip klasis, sinode, arsip VOC dan arsip lokal gereja-gereja lain. Perkembangan ini membuka kesempatan untuk studi tentang kehidupan sosial saat itu. Untuk sejarawan gereja Indonesia itu adalah hal baru untuk belajar dari sejarawan seperti Van Goor, Knaap, Schutte dan Niemeijer.
Perspektif yang disajikan oleh sejarawan menawarkan pendekatan baru untuk
bahan sejarah - yang berbeda dari misi, pendekatan institusional atau doktrinal
yang
disukai oleh para teolog sebelumnya. Proyek TANAP memberi Yusak kesempatan untuk mendekati era lama yang terlupakan dan banyak-disalahpahami dari perspektif baru.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan sejarawan, teolog, dan  studi antar agama  sebuah tampilan baru pada satu aspek dari situasi agama di Jawa. Tesis dari penelitian ini adalah bahwa Kristen Jawa di akhir abad kedelapan belas adalah perpanjangan dari Gereja Reformasi Belanda. Yusak berpendapat bahwa jenis kekristenan adalah kekristenan budaya, yang berbeda secara signifikan dari yang diperkenalkan misionaris Kristen pada abad berikutnya.
Kekristenan budaya ini memiliki hubungan yang berbeda dengan budaya lokal dan
Islam di Jawa, karena memiliki posisi teologis yang berbeda dari misionaris Kristen yang muncul pada abad kesembilan belas. Yang terakhir diwakili oleh para misionaris yang datang dari Barat untuk mengubah 'pribumi' dan menghabiskan sebagian besar sumber daya mereka untuk membawa mereka ke dalam terang.Keprihatinan misionaris untuk komunitas Kristen yang didirikan di
abad sebelumnya adalah marjinal. Sebaliknya, gereja publik di Semarang dalam
akhir abad kedelapan belas menempatkan kebutuhan orang-orang Kristen atas orang-orang non-Kristen.
Yusak menduga bahwa sebagian besar teolog dan sejarawan gereja akhir abad kesembilan belas dan abad kedua puluh yang tidak menyadari perbedaan antara era mereka sendiri dan era sebelumnya. Penelitian ini akan melihat masa panjang yang terlupakan dan periode yang sangat disalahpahami, sehingga kita
bisa menilai masa lalu - jika perlu - dengan standar sendiri.


Penelitian ini tidak memiliki rencana ambisius untuk menjelaskan semua kesalahpahaman dan hal yang dilupakan. Rencana Yusak adalah untuk memperkenalkan sejarah dengan lebih seimbang, sebagian besar untuk rekan-rekan di Indonesia. Yusak mencoba untuk mendapatkannya dari bahasa lama untuk masuk ke dalam dunia mental dan sosial dari orang-orang di zaman tersebut, praktek dan ekspresi agama baik pada awal masyarakat Belanda modern dan dalam bahasa Belanda di luar negeri. Pada intinya, proses ini adalah sebuah petualangan bagi Yusak. Semakin Yusak mengerti subyek studinya, semakin Yusak menghargai keberanian mereka dalam memulai sebuah petualangan ke wilayah Timur  (pangumbaran ing bang wetan).
Buku ini terdiri dari sembilan bab. Dua bab pertama berfungsi sebagai pengantar yang lebih luas. Bab-bab menggunakan sumber sekunder sebagian besar ditulis di Belanda dan tersedia dalam bahasa Inggris. Karya karya tulis yang menjelaskan informasi penting pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas Gereja Reformasi Belanda, serta perluasan wilayahnya ke luar negeri.
Dalam bab pertama Yusak memberikan penjelasan singkat dari Gereja Reformasi Belanda. Terlepas dari aspek organisasi, tidak secara detail. Yusak memilih lima fitur
gereja yang ditemukan di luar negeri. Yusak juga tidak membahas
struktur gereja, tetapi mengeksplorasi elemen hidup gereja sebagai gantinya: tua-tua,
diaken, pendeta dan pembantu gereja (ziekentroosters). Ini adalah orang-orang yang mengabdikan diri kepada gereja.
gereja Reformed merupakan bagian integral dari jati diri belanda dan akan membatasi diri untuk menjelajahi melalui sumber sekunder sosial dan keagamaan.
Gereja Reformed memiliki persyaratan keanggotaan dan alat yang kuat untuk
mengatur kehidupan para anggotanya. Aspek penting lainnya adalah pelayanan gereja
bagi masyarakat miskin. Daerah terakhir yang diteliti adalah hubungan antara
gereja dan negara - tentu saja terkenal untuk sejarawan, tetapi sering diabaikan oleh sejarawan gereja.
Bab Dua menggambarkan kedatangan pedagang Belanda dan gereja mereka di
Kepulauan Indonesia. Bab ini menjelaskan perkembangan permukiman Belanda,
dengan fokus khusus pada hubungan erat antara gereja dan Pemerintahan Belanda
dalam hal ini Perusahaan Belanda. Yusak menggunakan sumber yang lebih tua serta cara penelitian yang lebih baru dari abad ketujuh belas misi Gereja Reformasi Belanda dan kegiatannya di luar negeri. Diharapkan penelitian ini akan membantu pembaca untuk memahami bagaimana Perusahaan, bersama-sama dengan gereja, membuat persiapan di Belanda dan rencananya dapat terlaksana di luar negeri. Yusak menggunakan otobiografi yang menarik yang ditulis oleh mantan Indisch-predikant.
Bab Tiga, meskipun singkat, menggambarkan VOC di Pantai Timur Laut Jawa
dan bangkitnya kekuatan Perusahaannya di wilayah yang luas di kerajaan Mataram

Bab Empat menjelaskan bagaimana pelayan dan anggota lain dari konsistori
(Dewan gereja) bekerja di masa terakhir dari abad kedelapan belas di Jawa. Dalam
abad ketujuh belas, ketika kehadiran Perusahaan masih sangat terbatas dan Mataram
masih berkuasa, pos pos Perusahaan sudah didirikan di beberapa kota-kota pesisir.
Periode yang dicakup oleh penelitian ini adalah rentang waktu yang relatif singkat ketika perdamaian di Jawa, yaitu setelah Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada pertengahan abad kedelapan belas sampai pembubaran Perseroan pada awal abad kesembilan belas.
Bab Lima menceritakan ziekentroosters, pekerja gereja yang berpangkat rendah
, pada dasarnya sebagai petugas strategis misi gereja, yaitu sebagai pengelola gaya hidup Kristen. Sekali lagi, karena keterbatasan sumber, tidak bisa diberikan selengkap gambaran seperti yang diinginkan. Mengumpulkan kisah-kisah para ziekentroosters dalam satu bab akan meningkatkan pengetahuan kita tentang bagaimana terjadinya eksploitasi atas mereka.
Berbeda dengan pendeta, penatua dan diaken; ziekentrbosters tidak 
sebagai pemegang jabatan gereja, namun di tempat-tempat tertentu mereka mengambil alih beberapa pekerjaan para pendeta. Di daerah yang luas di Jawa, di mana orang-orang Kristen tinggal di daerah mulai dari Tegal di Barat sampai ke Pasuruan dan Sumenep di Timur, kunjungan hanya dua atau tiga kali setahun oleh pendeta. Kristen di Jawa, kemudian, berhutang banyak kepada ziekentroosters untuk pelayanan pastoral. Sisi lain dari cerita ini adalah bahwa kehidupan mereka pada dasarnya tidak berbeda dari pegawai Perusahaan berpangkat rendah lainnya, dikisahkan bersama dengan kebajikan dan kejahatan mereka. Tanpa ziekentroosters akan terjadi hal yang sangat berbeda di Jawa. Kekristenan di Jawa terdiri dari kelompok elit. Ziekentroosters adalah agen sebenarnya dari misi Kristen di era ini. Mereka layak mendapat pengakuan.

Dalam Bab Enam Yusak  mengumpulkan beberapa penelitian yang tidak cocok dengan tiga bab terakhir. Dua kasus juga disajikan dalam bab ini memberikan beberapa contoh
tentang bagaimana kehidupan yang terjadi di Jawa dan bagaimana peran gereja dimainkan. Sebuah tinjauan laporan yang akan membawa orang lebih dekat ke kehidupan yang tidak diketahui Kristen dan komunitas mereka di kota-kota di Jawa. Laporan yang menggambarkan komposisi masing-masing dan setiap kelompok masyarakat.  Namun
kita tahu bahwa anggota membentuk komunitas multikultural. Bagaimana
gereja melayani mereka? posisi Gereja Reformed sebagai gereja publik menjadi jelas. Bahkan gereja untuk semua orang, tidak hanya untuk anggotanya, dan itulah peran gereja untuk 'publik'.
gereja ikut campur tangan dalam masyarakat umum untuk mendidik dan mempertahankan gaya hidup Kristen. Dua cerita akan disajikan untuk menampilkan bagaimana nasib orang-orang Kristen di masyarakat ini. Kisah pertama tentang (masyarakat) pemenang yang mendapat nasib baik bagi dirinya dan keturunannya di Jawa. Kisah kedua terdiri dari cerita orang-orang yang tidak bernasib baik.

Bab Tujuh dan Delapan menghidupkan kembali sejarah yang terlupakan dari Kristen mula-mula di Jawa. Bab Tujuh adalah cerita tentang sebuah perusahaan amal yang digunakan untuk melakukan kontrol yang menguasai orang miskin. Di Jawa hanya ada satu sumber bantuan, diakoni.
Paling menarik adalah untuk mengetahui bahwa salah satu sumber untuk bantuan kepada orang miskin oleh non-Kristen.
Bab Sembilan  menawarkan cerita lain tentang bantuan dan kontrol, kali ini tentang
anak yatim. Untuk mengatur sebuah panti asuhan adalah sebuah usaha serius dan sebagai investasi besar. Pelaksananya di Semarang dipilih sendiri dari semua orang yang bertanggung jawab : bupati, ibu asrama dan kepala sekolah. Mereka juga mengasuh anak-anak dengan aman dan dalam lingkungan yang sehat untuk memastikan bahwa anak-anak akan menjadi anggota masyarakat kolonial yang produktif.

Bab terakhir adalah tentang hubungan erat antara gereja dan pemerintah. Pemerintah pasti tidak mendominasi gereja. Akhirnya pada kesimpulan Yusak meyimpulkan semua cerita yang telah disajikan dan menyampaikan beberapa pemikiran tentang seluruh petualangan.

Minggu, 27 April 2014

Liturgies of The Western Church



Judul Buku : Liturgies of The Western Church
INTRODUCTION                                                                                   ix
SELECTED BOOKS ON WORSHIP                                                    xiii
I    The First Apology of
      Yustinus Martyr                                                                                3         
     The First Apology, ca. 155                                                                8
II  The Apostolic Tradition of Hippolytus
     Hippolytus                                                                                        13
     The Apostolic Tradition, ca. 200                                                       20
III The Mass    
      The Roman Rite                                                                               27
      Order of Low Mass in Latin and English                                           54
IV  Martin Luther, Formula Missae and Deutsche Messe
        Luther                                                                                            95
       Formula Missae, 1523                                                                   106
        Deutsche Messe, 1526                                                                  123
V  Ulrich Zwingli, The Zurich Liturgy
     Zwingli                                                                                             141
     Liturgy of the Word, 1525                                                               147
     Action or Use of the Lord’s Supper, 1525                                       149

VI Martin Bucer, The Strassburg Liturgy
      Bucer                                                                                               159
      Psalter, with Complete Church Practice, 1539                                   167
VII John Calvin, The Form of Church Prayers
       Calvin                                                                                             185
The Form of Church Prayers, Strassburg, 1545, & Geneva,1542           197

                                    CONTENTS
APPENDICES: John Oecolampadius, Form and Manner, 1525?           211
William Farel, La Maniere et fasson, 1524?                                            216
VIII   The First and Second Prayer Books of King Edward VI
           The English Rite                                                                          227
            The Booke of the Common Prayer, 1549                                   245
            The Book of Common Prayer, 1552                                          269
IX John Knox, The Forme of Prayers
       Knox                                                                                             287
       The Forme of Prayers, 1556                                                          295
X    The Middleburg Liturgy of the English Puritans
       The Puritans                                                                                  311
       A Booke of the Forme of Common Prayers, 1586                         322
XI    The Westminster Directory
         The Westminster Directory                                                         345
          A Directory for the Publique Worship of God, 1644                  354
XII     Richard Baxter, The Savoy Liturgy
          The Savoy Liturgy                                                                     375
          The Reformation of the Liturgy, 1661                                         385
XIII   John Wesley, The Sunday Service   
          Wesley                                                                                       409
          The Sunday Service of the Methodists in North
          America,1784                                                                             415

Penulis : Bard Thompson
Bard Thompson lahir pada tanggal 18 Juni 1925, di Waynesboro, Pennsylvania. Dia mendapat gelar dari Haverford College, Union Theological Seminary, dan Columbia University, di mana ia meraih gelar Ph.D. pada tahun 1953. Thompson telah mengajar sejarah gereja di Emory University, di Vanderbilt University, Lancaster Theological Seminary, dan Drew University. 

Bard Thompson mengatakan bahwa kita hidup di era kebangkitan Liturgi. Dalam lima puluh tahun terakhir, para sarjana Katolik telah melakukan penelitian yang luar biasa untuk mendapatkan sumber dan menuliskan sejarah ritus Romawi seperti Cabrol, Duchesne, Baumstark, dan Jungmann. Pekerjaan mereka telah membawa perubahan tertentu dalam praktek ibadah Katolik dan telah merambah ke dalam kehidupan ibadah gereja Katholik itu sendiri.
Tidak sama dengan Liturgi di gereja Protestan (terutama di Amerika) yang belum berkembang dengan tertib karena dipengaruhi oleh berbagai kekuatan. Tentu saja para imam ikut mempengaruhinya. Maxwell telah membangkitkan minat yang cukup besar dalam pencarian asal-usul ibadah Reformed, sementara Davies menjelaskan tentang asal usul penyembahan kaum Puritan di Inggris. Lutheran, telah mengabdikan diri untuk ide-ide liturgi (hubungan antara teologi dan ibadah) yang dikembangkan oleh Luther. Brilioth dan Dix telah menyumbangkan buku-buku mengenai sejarah Ekaristi. Liturgi Gereja Barat terinspirasi oleh pertimbangan estetika, sebagian oleh reaksi terhadap teologi yang membosankan atau intelektualisme yang berlaku dalam beberapa tradisi Amerika. Perubahan yang nampak seperti pernak- pernik, dan tanda-tanda yang dapat dilihat dalam mimbar dan altar, penerimaan Tahun Gereja, jubah untuk paduan suara, dalam buku-buku baru untuk tata ibadah dan Injil yang dibuat jadi lagu. Pada saat yang sama, ibadah menjadi topik pembicaraan yang penting dalam gerakan ekumenis. Di Amerika, di mana persekutuan denominasi telah berkembang dengan cepat, gereja-gereja sering harus menghadapi isu-isu ekumenis dalam mempersiapkan buku-buku liturgi yang baru. Revisi telah dibuat, atau akan segera dilakukan, setidaknya lima dari denominasi besar.
Semakin banyak kita belajar tentang liturgi, semakin kecil kemungkinan kita akan tersandung ke dalam perangkap renaisans liturgi, terutama, penyembahan terhadap berhala seperti barang antik liturgis dan penggunaan liturgi impor yang tidak relevan dengan jemaat setempat.

Senin, 30 September 2013

Judul Buku : Hanging Without A Rope (Narative Experience in Colonial and Postcolonia Karoland



Judul Buku : Hanging Without  A Rope (Narative Experience in Colonial and Post colonial Karoland), New Jersey : Princeton University Press, 1993
Nama Penulis : Mary Margaret Steedly.

isi
Daftar Ilustrasi                                                                                       ix
Ucapan Terima Kasih                                                                            xi
Beberapa Catatan tentang Bahasa , Terjemahan , dan ortografi              xv
prolog                                                                                                    3
BAB SATU .              Narasi Pengalaman                                             12
BAB Dua .                  Dunia Masyarakat Karo                                     44
BAB TIGA .               Pasar dan Uang                                                  77
BAB EMPAT .           Di Gunung Sibayak                                            119
BAB LIMA .              Tanda-tanda Kehidupan                                    144
BAB ENAM .            Orang Lain Berbicara                                        174
BAB TUJUH .           Sebuah Cerita                                                    203
BAB DELAPAN .      Sebuah Kematian                                              224
Catatan                                                                                                241


glosarium                                                                                              269
bibliografi                                                                                             275
indeks                                                                                                  297



ilustrasi
Foto-foto
Nande Randal melakukan tarian ajaib                                                      9

Guru si Baso tarian di lorong tengah rumah Karo, Kabanjahe. c . 1910. (Dengan izin dari Koninklijk Instituut voor den Tropen)                                                                      17                                           

Peta Provinsi Sumatera Utara (residensi kolonial- di Sumatera Timur dan Tapanuli ). (Dengan izin dari K. Pelzer, Planter dan Petani . Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal - , Land- , en Volkenkunde 84:186 . ' S  Gravenhage :
Murtinus Nijhoff , 1978)                                                                          46

Peta Indonesia (Dengan izin dari S. Errington , Arti, Kekuatan dalam Kenyataan Asia Tenggara . Princeton, N.): Princeton University Press , 1989 )                                                  47
                                                                                              
upacara Mencuci Rambut ( erpangir ku lau ) di Lau Debuk - Debuk ,
1985                                                                                                                   72

Seorang warga desa tua membawa tongkat (Foto oleh W. Robert Moore)           79
                                                                                                                                                            Orang Karo Pemikul Garam, c . 1910. (Dengan izin dari Koninklijk
Instituut voor den Tropen)                                                                                   87

Sebuah doa kepada roh-roh, Lau Debuk - Debuk, 1985                                     120

"Bahaya ! Jangan melompat di sini." Lau Debuk - Debuk , 1984                          153

Menyendoki gelembung di Lau Debuk - Debuk , 1985                                        155

Beru Karo membedaki wajahnya . Lau Debuk - Debuk , 1985                            156

Anggota Persadan Merga Si Lima berbaris melalui Berastagi
pada ulang tahun pertama gendang Jambur. Gunung Sibayak
ada di latar belakang sebelah kiri. (Dengan izin Belat Ginting)                               162

Bundel - daun sirih di kios pasar Karo . (Foto oleh Endo Suanda)                        181

            Ucapan Terima Kasih Merry Margaret Steedly
Merry berterimakasih kepada anggota keluarga, teman, dan rekannya yang selalu menyampaikan pertanyaan ("Apakah sudah selesai?"), ada yang telah lengkap dicatat, dan ada juga yang sedang dikerjakan. Khususnya dia berterima kasih kepada Michael Herzfeld dan Ken George, atas antusiasme dan kesabaran mereka saat membantu Merry meneliti.
Proses penulisan dan revisi dapat diselesaikan atas bantuan intelektual lainnya yang telah menulis lebih dahulu. Pemikiran dan teladan dari pembimbing telah membentuk tulisan ini, yaitu : James Peacock, yang memperkenalkan kepada Merry tentang antropologi dan tekstur kehidupan kota di Indonesia, Daniel Patterson, yang mengajarinya untuk meneliti teks lagu dan cerita, Sherry Ortner, yang mengatakan perlunya meneliti jender dalam setiap detail analisis sosial, Christopher Davis, yang mengajarkan bagaimana melakukan penulisan, pengajaran, dan membuat etnografi lapangan, dan apa, yang terbaik sesuai ilmu antropologi; dan terutama Michael Taussig, yang pengaruhnya harus diakuinya dalam seluruh pekerjaan penelitian ini.
Merry tertarik kepada esai dari Clifford Geertz; seorang antropolog masyarakat Indonesia. Langsung atau tidak langsung sangat mempengaruhi tulisan Merry dalam buku ini. Nicholas Dirks yang membuat Merry mulai berpikir tentang hubungan antara sejarah dan antropologi, Susan Harding, Lou Roberts, dan Joan Scott yang menunjukkan betapa pentingnya teori feminis yang dapat diteliti dengan cara lintas disiplin ilmu .
Teman-teman lain dan guru yang telah memberikan kontribusi , langsung maupun tidak langsung , untuk proyek ini, Lawrence Cohen, Lindsay Prancis, Ken George, Byron Baik, Laurie Hart, Rita Kipp, Arthur Kleinman, Jennifer Krier, Terry O'Nell, John Pemberton, Elliott Shore, Patsy Spyer, Katie Stewart, Anna Tsing, dan Debbie Tooker, yang membantu proses editing. Masri Singarimbun , yang membimbing Merry tentang  seluk-beluk kekerabatan Karo. Philip Yampolsky yang telah membantu dengan banyak cara, membimbing Merry tentang sistem transportasi umum di Medan, untuk menghitung jumlah daun sirih dalam paket, untuk memberikan saran ethno musicologi ,mantra , dan membaca dengan kritis bagian-bagian dari naskah .
Rekan-rekan Merry di Harvard yang telah secara konsisten mendukung
proyek penelitian ini . Banyak mahasiswa Merry membaca bagian dari pekerjaan ini. Komentar, inspirasi dan tantangan dari mereka. Secara khusus, Merry mengucapkan terima kasih atas kontribusi dari para siswa dalam seminar Merry tentang "Gender dan Subjektivitas" dengan argumen teoritis yang disajikan dalam bab I buku ini.
Rebecca Grow telah membantu dalam banyak hal secara mendetail persiapan naskah, termasuk editing dan membaca naskah. Alexandra Guisinger dan Bart Ryan membantu dalam penyusunan indeks buku.
Princeton University Press (Editor Mary Murrell) telah memfasilitasi
penyelesaian revisi buku ini. Sherry Ortner dan Nicholas Dirks telah memandu dan mendukung dari awal proyek ini . James Boon dan pembaca lainnya yang meninjau versi sebelumnya;  kritik yang sangat berharga dan komentanya telah dimasukkan ke dalam karya ini.
Lapangan penelitian Buku ini dilakukan di Sumatra Utara, Indonesia, antara bulan Februari dan Desember 1983 sampai 1985. Penelitian ini didukung dana dari Penelitian Program Doctoral Fulbright - Hays, Lembaga Penelitian Ilmu Sosial dan Lembaga Penelitian Masyarakat Amerika, dan University of Michigan. Semuanya dilakukan di bawah naungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan disponsori oleh Universitas Sumatera Utara (USU), Departemen Antropologi dan Fakultas Sastra USU, dan Patricia Sharpe, mantan Konsulat AS di Medan, Bapa Petrus Sitepu dan Nande Petrus beru Ginting, Petru , Nova, Cicik, dan Linsi, dan untuk semua kerabat Karo. Anggota kelompok Arisan dari "Simpang Meriah" (nama samaran), Pa Ngajar Bana Purba, Belat Ginting, Bapa dan Nande Juara di Medan (juga Ipin, Alex, dan Nelson ), Bapa dan Nande Ernalem (juga Hanna, Dalan, Amin, dan Apen ), Bapa dan Nande Dixon; Bapa dan Nande Perulihen, dan Bapa dan Nande Surya di Beganding, Bapa Sanggup dan Nande Perdamén, Rizaldi Siagian , Endo Suanda , dan Philip Yampolsky, Endo Suanda, Rita Kipp dan Susan Rodgers, “Group Si Baso" - Boni Tarigan , Aman Saragih, Rolexon Napitupulu, Astina br. Sebayang, dan Ernalem br. Bangun. Juara Rimantha Ginting, yang menemani Merry selama penelitian ini.

            Beberapa Catatan tentang Bahasa
Masalah bahasa di Sumatera sangat kompleks. Dalam buku ini dibedakan sedapat mungkin antara bahasa Indonesia, bahasa nasional Indonesia, dan bahasa Melayu asli dari pantai timur Sumatera. "Melayu" berarti dialek Sumatera pribumi atau lingua kolonial franca, demikian pula dengan di "Indonesia" ini merupakan bahasa pendidikan, media, dan bahasa resmi publik, atau secara khusus terminologi nasionalis diperkenalkan melalui bahasa ini selama revolusi (Benedict Anderson mengatakannya sebagai "revolusioner Melayu"). Kesulitan lebih lanjut ditimbulkan oleh variasi lokal dalam dialek bahasa Indonesia, "Melayu / Indonesia ". Sebagai contoh, dalam standar Indonesia istilah kakak berarti "saudara tua (tanpa memandang jenis kelamin)." Di Sumatra Utara, kakak merujuk secara khusus untuk saudara tua perempuan. (Bahasa Karo kaka berarti "saudara tua dari kedua jenis kelamin," seperti dalam standar bahasa Indonesia). Karo lebih dekat ke bahasa Melayu daripada bahasa Batak lainnya.

Hanging Without a Rope
sebuah prolog
"INI Nini kita, yang dari gunung", kata Nande Randal, dia telah menjadi perantara roh dan dukun selama lebih dari empat puluh tahun, pedagang sayur, awalnya di kota pasar Berastagi dan kemudian, setelah akhir Revolusi Indonesia tahun 1950, di Pasar Sentral besar di kota Medan. Dengan bantuan roh, dia dan suaminya telah memperoleh dana cukup untuk berinvestasi dalam armada minibus. Tapi anak-anak mereka telah menyia-nyiakan uang mereka, dan akhirnya minibus tersebut harus dijual. Sekarang mereka mengusahakan sebuah peternakan kecil di luar kota. Saat Juara Ginting dan Merry tiba untuk mengunjunginya. Dia menyambut dengan riang dan langsung beristirahat dari pekerjaannya. Peternakan Nande Randal di tepi kota Pancur Batu.
Nande Randal telah belajar dari Nini Raja Umang, raja orang-orang liar yang mendiami lereng terjal Gunung Sibayak. Dia "bermeditasi" selama tujuh bulan dengan  raja umang, katanya. Dia memperlihatkan herbal khusus yang hanya tumbuh di puncak gunung, dan mengajarkan bagaimana melindungi diri dari serangan roh dan sihir, dari angin kaba-kaba yang bisa menerbangkan seluruh isi meja, dari kusta, dari begu ganjang dan begu gendek. Nande Randal memberitahu mereka harus makan bebek untuk makan malam, karena semua ayam telah dicuri orang. Saat kunjungan kedua, beberapa bulan kemudian , bebek juga dicuri orang.
Di tahun 1930-an, Nini Randal benar-benar sangat populer. Jika ada orang yang tidak dapat diobati, Nande Randal akan mengobatinya, dan sembuh! Nande Randal akan bernyanyi , para Ninis akan turun, mereka segera sembuh. Saat ini , meskipun, Nande Randal tidak bekerja sebagai dukun, ia masih mau mengobati pasien dan setiap
bulan ia menghadiri pertemuan Karyawan Koperasi Bhakti Samudera, para "kakek-nenek” untuk acara penyembahan roh Gunung Sibayak, disponsori oleh Arisan Simpang Meriah. Arisan Koperasi Karyawan Bhakti Samudera semacam asosiasi kredit bergulir, Arisan memberikan dukungan keuangan dan partisipatif untuk kegiatan ritual anggotanya , kebanyakan dari mereka adalah pedagang pasar skala kecil dan broker. Pada tahun 1984 dan 1985 , Arisan ini memiliki keanggotaan aktif sekitar dua puluh lima keluarga, masing-masing menyumbang sejumlah kecil uang dan beras setiap bulan untuk kelompok ini, yang kemudian dapat ditarik untuk membiayai biaya ritual. Semua diharapkan untuk mengambil bagian dalam upacara. "Menyanjung" roh-roh untuk memberikan berkat kepada peserta acara ini.
Arisan ini didirikan sekitar dua dekade lalu, sebagai cabang dari
Organisasi budaya/ agama Karo dikenal sebagai Persadan Merga Si Lima, Asosiasi Lima Klan. Didedikasikan untuk pelestarian adat Karo dan sebagai wadah perlindungan untuk orang-orang Karo yang belum memiliki agama - yaitu, yang masih mengikuti agama asli Karo disebut Agama Pemena , yang disebut agama "Pertama" atau "asli". Merga Si Lima telah berkembang pada periode bermasalah setelah upaya kudeta Komunis tahun 1965. Saat pemerintahan Orde Baru Soeharto, ketegangan yang tinggi antara pengikut Agama Pemena dan tetangga mereka Kristen. “Setiap minggu kami bersama, kami memiliki orkestra kecil” kata Nande Randal. Para tetangga melemparkan batu bata ke jendela kami. Kami dipukul! “Bunuh pemain Gendang mereka", kata mereka. Kami takut untuk pergi keluar sendirian di malam hari". Rumor yang beredar bahwa anggota Merga Si Lima akan dikirim ke penjara selama empat tahun.
Pada pertengahan 1970s sebagian besar Merga Si Lima sekarat, retak oleh perpecahan internal politik dan persaingan. Namun pada tahun 1979, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memberikan legitimasi terhadap keyakinan agama anggotanya, Arisan dilarutkan sebagai "Hindu" di bawah naungan dari organisasi nasional Parisada Hindu Dharma yang berbasis di Bali, (dalam tahun 1962) Hindu Bali secara resmi diakui oleh negara sebagai agama. Untuk sementara ada pertemuan setiap Sabtu malam, dan seorang pria - cabang provinsi Tamil lokal dari Parisada Hindu Dharma terutama oleh kelompok dari masyarakat Tamil Medan ~ datang untuk mengajar mereka tentang agama Hindu. Nande Randal tidak ingat namanya , dan dia tidak ingat banyak instruksi dalam Hinduisme, kecuali bahwa mereka seharusnya berdoa pada saat mau makan .
Kitab mereka sendiri bersampul tipis berjudul Upadega : Mengenai Ajaran Agama Hindu (bahasa Karo), meskipun ia tidak bisa membacanya, Nande Randal menyimpannya. Nande Randal adalah yang paling senior dari orang yang bertugas sebagai media roh yang membentuk kelompok inti . Mereka semua disahkan sebagai pemimpin ritual. Para anggota Arisan lain saat ini mengatakan bahwa roh telah meninggalkan Nande Randal : mungkin karena dia terlalu tua, roh suka bertengger pada orang muda yang menarik, atau mungkin, dia telah menyinggung roh Muslim sekitar peternakannya dengan beternak babi di sana. Nande Randal sendiri mengatakan secara terbuka bahwa rematiknya dan secara pribadi bahwa dia idak tertarik lagi karena orang lain tidak melakukan upacara dengan benar.
Tari tongkat pernah menjadi hak prerogatif dari guru laki-laki, yang terlatih sebagai praktisi ilmu sihir, Nande Randal melakukan tari guru itu, dilandasi oleh semangatnya, ia tampilkan, dengan hati-hati jari jemarinya memegang sapu.

Sebuah lukisan Klee bernama "Angelus Novus" menunjukkan tampilan –malaikat yang  seolah-olah menjauh dari sesuatu yang telah direnungkannya secara matang. Matanya menatap, mulutnya terbuka, sayapnya mengembang. Ini adalah bagaimana salah satu gambar malaikat sejarah. Wajahnya berbalik menuju masa lalu . - WALTER BENJAMIN , " Tesis Sejarah Filsafat "

Seperti malaikat (Walter Benjamin), orang Karo membayangkan masa lalu sebagai membentang di depan mereka, saat mereka pindah ke masa depan, bencana terus menumpuk pada di kakinya, karena ia didorong secara tak berdaya ke masa depan oleh badai kemajuan ( Benjamin 1969c: 257). Untuk orang-orang seperti Nande Randal, yang tinggal dalam badai itu (bencana itu) ditandai oleh Zaman Emas dibayangkan diabadikan dan disempurnakan. Roh - orang yang hidup dan yang mati - memungkinkan secara sesaat untuk menjembatani batas antara masa lalu dan masa sekarang, antara pengalaman dan imajinasi. Namun jembatan itu rapuh , tidak ada kekuatan dari memori. Salah satu roh yang Nande Randal pakai adalah roh kaka Tua, kakak, yang telah tewas dalam pembalasan pasca - Gestapu dari akhir 1960-an atas anjuran seorang kerabat yang iri atas kepemilikan tanah.

Dalam metafora Karo klasik “cinta tak berbalas”, kekasih yang malang digambarkan seperti burung camar di langit saat tengah hari :

Anda mungkin mengatakan bahwa itu tergantung di sana
tetapi tidak ada tali yang terlihat ; atau
Anda mungkin mengatakan bahwa Camar itu telah
ditempatkan di sana tapi tidak ada jalan yang terlihat.

“Bergantung tanpa tali” : Ungkapan, yang menyampaikan situasi yang tidak didukung, tidak dimengerti dan tampaknya tak terhindarkan, adalah sering digunakan oleh Karo yang seperti Nande Randal, merasa diri mereka terjebak antara masa lalu yang tidak lagi dapat dipertahankan, hanya sedikit yang relevan. Terisolasi di sela-sela permainan dengan aturan jelas, mereka mungkin memanggil penglihatan mereka tentang masa lalu, memanggil roh-roh yang mewujudkan masa lalu itu untuk mereka, dan mencari tempat berlindung sementara.
Ini keniscayaan sejarah, namun, selalu terbuka, untuk peristiwa dan pengalaman terus memperoleh yang baru (selalu berubah) sehubungan dengan situasi sekarang yang terus berubah. Ini adalah keterbukaan, kemungkinan untuk revisi interpretatif, menulis ulang "sejarah" (atau "nasib"), dimana roh menawarkan kepada orang-orang yang mereka ikuti, dan yang pada saat yang sama, adalah sebagai nasib roh  itu sendiri. Ketika Nande Randal melakukan tari tongkat, menari dengan megah di kedai kopi lusuh di tepi jalan Berastagi, dia tidak merevisi sejarah guru tua sambil memegang sapu keajaiban? Dan kita tidak bisa juga mengambil sapu itu, dan menggunakannya sebagai – (yang Benjamin ( ibid) sarankan) - untuk "membersihkan sejarah yang melawan arus"?